Strategi Membeli Saham Undervalued Dengan Potensi Keuntungan Tinggi Jangka Panjang

Membeli saham undervalued sering dianggap sebagai salah satu cara paling rasional untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang. Strategi ini bukan soal menebak harga akan naik besok atau minggu depan, melainkan mencari perusahaan bagus yang sedang dihargai lebih murah dari nilai wajarnya. Ketika pasar sedang pesimis, banyak saham berkualitas ikut turun, dan di situlah peluang besar muncul. Namun, strategi undervalued bukan berarti membeli saham murah sembarangan. Dibutuhkan analisis yang rapi agar kita bisa membedakan mana harga murah karena peluang, dan mana harga murah karena masalah bisnis yang serius.

Memahami Konsep Undervalued Secara Tepat

Saham undervalued adalah saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Nilai intrinsik sendiri adalah perkiraan nilai wajar perusahaan berdasarkan kondisi fundamental seperti pendapatan, pertumbuhan bisnis, arus kas, dan stabilitas keuangan. Ketika pasar bereaksi berlebihan terhadap sentimen jangka pendek, seperti isu ekonomi, penurunan sektor tertentu, atau koreksi besar, harga saham bisa turun jauh di bawah nilai sebenarnya. Investor jangka panjang memanfaatkan gap ini, membeli saat harga rendah, lalu menunggu sampai pasar kembali menilai perusahaan dengan lebih adil.

Fokus pada Fundamental, Bukan Sekadar Harga Murah

Kesalahan paling umum dalam investasi undervalued adalah menyamakan saham murah dengan saham undervalued. Harga saham yang rendah tidak otomatis berarti peluang bagus. Yang harus dianalisis adalah kualitas bisnisnya. Perusahaan dengan fundamental kuat biasanya memiliki produk atau layanan yang jelas, pasar yang stabil, serta kemampuan menghasilkan keuntungan secara konsisten. Penting juga menilai apakah perusahaan memiliki daya saing yang tahan lama, misalnya karena brand kuat, jaringan distribusi luas, atau biaya produksi yang efisien. Semakin jelas kekuatan bisnisnya, semakin besar kemungkinan harga saham yang turun hanya bersifat sementara.

Memanfaatkan Rasio Keuangan Sebagai Filter Awal

Dalam menyaring saham undervalued, rasio keuangan membantu mempercepat proses seleksi. Rasio seperti Price to Earnings (PER), Price to Book Value (PBV), dan Price to Sales (PS) sering dijadikan indikator awal untuk melihat apakah valuasi relatif murah dibandingkan perusahaan sejenis. Namun rasio ini tidak boleh dipakai secara tunggal. PER rendah bisa jadi bagus, tapi bisa juga karena laba perusahaan sedang menurun. PBV rendah dapat menunjukkan undervalued, tapi bisa juga karena aset tidak produktif. Karena itu, rasio sebaiknya dipakai untuk memunculkan kandidat, lalu diperdalam dengan analisis kualitas bisnis.

Cari Margin of Safety Agar Risiko Lebih Terkendali

Konsep margin of safety adalah inti dari strategi undervalued. Artinya, investor membeli saham dengan selisih aman antara nilai intrinsik dan harga pasar. Semakin besar selisihnya, semakin kecil risiko salah perhitungan. Jika nilai wajar perusahaan diperkirakan jauh di atas harga saat ini, maka investor memiliki ruang aman bila terjadi kesalahan analisis atau muncul gejolak pasar. Margin of safety membuat investasi lebih seperti strategi probabilitas, bukan perjudian, karena peluang keuntungan menjadi lebih besar dibanding potensi kerugiannya.

Perhatikan Katalis Jangka Panjang yang Bisa Menggerakkan Harga

Saham undervalued biasanya membutuhkan waktu untuk “disadari” pasar. Karena itu investor perlu memahami katalis yang dapat mendorong valuasi kembali normal dalam jangka panjang. Katalis bisa berupa pemulihan kinerja laba, ekspansi pasar, efisiensi biaya, perbaikan manajemen, atau perbaikan kondisi ekonomi. Perusahaan undervalued yang punya rencana pertumbuhan realistis biasanya lebih menarik daripada perusahaan murah yang tidak punya arah. Semakin jelas katalisnya, semakin besar kemungkinan harga saham bergerak naik secara sehat.

Gunakan Strategi Bertahap Agar Emosi Tetap Stabil

Harga saham undervalued tidak selalu langsung naik setelah dibeli. Bahkan sering kali harga masih turun setelah kita masuk. Di sinilah pentingnya strategi akumulasi bertahap, misalnya membeli dalam beberapa kali transaksi. Cara ini membantu mengurangi risiko membeli di harga yang ternyata belum menjadi titik terendah. Selain itu, investor bisa menjaga psikologi tetap stabil karena tidak menaruh seluruh dana sekaligus. Dalam jangka panjang, strategi bertahap membuat rata-rata harga beli lebih terkendali dan keputusan lebih rasional.

Disiplin Menunggu dan Evaluasi Berkala

Keuntungan tinggi jangka panjang dalam strategi undervalued datang dari kesabaran. Banyak investor gagal bukan karena analisisnya salah, melainkan karena tidak tahan menunggu. Saham undervalued membutuhkan waktu untuk kembali ke nilai wajarnya, dan proses ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun kesabaran bukan berarti pasif tanpa evaluasi. Investor perlu mengecek laporan keuangan, kondisi industri, dan perkembangan bisnis secara berkala. Jika fundamental membaik, maka posisi layak dipertahankan. Jika fundamental memburuk parah dan tesis investasi tidak lagi relevan, maka keputusan harus dikoreksi.

Strategi membeli saham undervalued adalah pendekatan yang kuat bagi investor yang berpikir panjang dan mengutamakan logika. Dengan fokus pada fundamental, margin of safety, serta kesabaran menunggu nilai wajar, potensi keuntungan bisa jauh lebih besar dibanding sekadar trading cepat. Kuncinya adalah memilih perusahaan berkualitas yang sedang dihargai murah, lalu membiarkan waktu bekerja untuk mengubah peluang menjadi hasil nyata.